Warga Eks Timtim Lebih Nyaman Hidup di Timor Barat

Berita, 14 Mei 2006

Setelah kemerdekaan Timor-timur dari Indonesia yang berbuntut kerusuhan, terjadi pengungsian besar-besaran memasuki Timor Barat. Kini setelah hampir enam tahun lebih tinggal di NTT (Nusa Tenggara Timur), masyarakat keturunan Timor-Timur tinggal lebih nyaman di Indonesia.

Mateus Alves, salah seorang tokoh masyarakat keturunan Timor Timur (Timtim) asal Manatuto yang bermukim di lokasi pemukiman kembali (resettlement) Raknamo, Kupang Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) mengatakan, hidup di Timor bagian Barat jauh lebih menyenangkan dari pada kembali ke Timtim.

"Di sini juga masih hidup susah, namun kami merasa lebih nyaman ketimbang harus kembali ke Timtim, apalagi saat ini, situasi keamanan di negara itu bertambah tidak menentu. Timor bagian Barat merupakan pilihan hidup terakhir," katanya dalam kepada ANTARA di Raknamo, sekitar 40 km timur Kupang, Minggu.

Lokasi "resettlement" di atas bukit Raknamo itu dibangun TNI-AD sekitar tiga tahun lalu untuk merelokasi eks militerisasi (milsas) dan penduduk sipil asal Timtim yang sebelumnya menghuni di kamp-kamp pengungsian Noelbaki dan Tuapukan, Kupang Tengah.

Mereka bercocok tanam dengan memanfaatkan lahan pemberian penduduk lokal untuk menata kehidupan dan masa depannya bersama keluarga. Di samping kiri kanan rumah, mereka tanami pepaya, ubi kayu dan pisang, semua serba hijau meski terik matahari terasa mulai menyengat.

Ada sekitar 200 unit rumah yang dibangun TNI-AD sejak Komandan Korem 161/Wirasakti masih dijabat Kol Inf M Moesanip (kini Kasdam VII/Tanjungpura dengan pangkat Brigadir Jenderal). Perumahan type-21 itu menyebar di tiga lokasi di bukit Raknamo.

"Di sini lahan pertanian masih sangat banyak. Saudara-saudara kami yang ada di sini (penduduk lokal) dengan senang hati memberi kami lahan untuk mengolahnya. Siapa yang rajin, dia akan mendapatkan hasil yang berlimpah," ujar pria itu.

Alves dan beberapa orang rekannya yang lain menyatakan, mereka sepertinya sudah melupakan tanah kelahiran mereka di Timtim karena merasa hidup lebih nyaman di Timor bagian Barat.

"Kami masih kesulitan air bersih dan penerangan listrik, namun kami merasa hal itu bukan menjadi kendala. Dengan bercocok tanam, kami merasa sudah bisa membangun hidup kami di tanah perantauan," ujarnya.

Warga mantan Timtim kini hidup bekerja diladang sebagai petani, harapan menyongsong hari depan bersama-sama saudara-saudara mereka makin terbuka. Mereka tentu saja bisa merantau kemana saja di wilayah Indonesia, bukan saja di NTT. Warga eks Timor-Timur yang umumnya berasal dari Manatuto, Viqueque dan Lospalos kini menyongsong masa depan di Indonesia.

Beri Komentar