Tuban, Pangkalan Militer Armada Laut Majapahit.
Novel, 6 Maret 2006
Tuban, Pangkalan Militer Armada Laut Majapahit. Suasana hiruk-pikuk diseantero Tuban
mewarnai persiapan keberangkatan pasukan Majapahit, kota yang berpenduduk 2000-2500 keluarga
ini tiba-tiba jadi padat karena kehadiran para prajurit.
Persiapan sudah selesai, pasukan Majapahit diangkut oleh lebih kurang 1100 Jung (kapal
perang), baik berukuran sedang maupun besar. Disalah satu tenda militer, sedang
dibicarakan pelaksanaan pemberangkatan pasukan.
"Tuan Maricayya, bagaimana persiapan akhir pasukan?" Sukiman meminta penjelasan
dari Salah satu Jendral Majapahit, Tuan Maricayya.
"Semuanya sudah siap Panglima, seluruh prajurit, logistik selama setahun, alteri
berat "Meriam Tapel", Tiang Pemanah, sudah masuk."
"Pasukan Infrantri akan lebih dulu tiba di Tusamana, kira-kira 3 hari didepan, menyusul
seluruh pasukan Kavaleri, alteri berat dan logistik." jelas Tuan Maricayya
"Mpu Nala, bagaimana dengan alteri berat?"
"Semuanya siap dioperasikan, bola-bola baja dari berbagai ukuran juga telah dinaikkan
kekapal" Mpu Nala, tenaga ahli senjata berat, menjelaskan.
"Tabib DasaPerak !"
"Kami siap, seluruh tenaga paramedis dan obat-obatan juga sudah siap."
Mendadak seorang prajurit masuk,
"Maaf panglima, ada surat dari Adipati Palembang"
Sukiman membuka surat tersebut, bibirnya terkembang senyum.
"Ada apa Sukiman" Tuan Maricayya heran.
"Kabar gembira Tuan Maricayya, Adipati Palembang menerima kabar bahwa
Timur berhasil merebut kota Heart"
"Alhamdulillah, semoga Rahmat dan Berkah serta panjang umur diberikan
kepada Timur, Allah meneguhkan Islam dengan para kesatria yang gagah berani dan
tawaddu, serta sangat saleh."
"Ohh, Syukurlah"
Serentak semuanya berdiri.
"Tuan Maricayya, saya ingin kabar gembira ini disampaikan keseluruh pasukan."
"Semua persiapan telah selesai, berangkatkan Pasukan."
"Segera dilaksanakan Panglima."