Tabir Surya Edisi Terbatas.

Novel, 05 April 2006

Kadipatenan Tusamana terletak 15 km dari Benteng, iring-iringan prajurit berkuda memasuki kadipatenan. Kedua prajurit Majapahit bersama pasukan Ra Semi memasuki ruang utama yang begitu besar, ada puluhan regu jaga dan patroli yang menjaga kadipatenan.

Ruangan berada di sebelah kiri ruang utama, dua orang berjaga didepan pintu.
"Maaf anda hendak kemana?" tanya prajurit jaga.
"Saya membawa Tabib DasaPerak dan asistennya untuk mengecek kesehatan Putri"
"ini tanda perintah dari komandan" prajurit tersebut memperlihatkan cap kerajaan,
berupa batu alam berbentuk segiempat, didalamnya terpahat stempel kerajaan.

Pintu berderit saat dibuka karena beratnya, diruangan ada dua dipan, seperangkat kursi tamu dan beberapa perabot lainnya. Seorang wanita paruh baya beranjak menghampiri Tabib Dasaperak dan si TabirSurya.
"Ibu, kami ingin memeriksa kesehatan Putri Diah Kencati" ujar Dasaperak.
"Apakah kau Tabib Dasaperak? oh senang sekali, putriku itu sulit sekali
makan" tanya Nyai Banyak dengan gembira.
"Jangan Khawatir Ibu, kami akan memeriksanya"

//===============>

"Neng, eh salah, nduk, apa kabarmu?"
Tabib Dasaperak menghampiri Kencati yang lagi bobo-bobo ringan.
"Ah Paman Dasa, baik aja"
"Maaf ya, saya ingin memeriksa denyut nadinya"
Tabir Surya dengan tangkas bergerak maju hendak memegang pergelangan tangan Diah Kencati.
"Oh tolongggg, Paman Dasa, paman kog membawa pemain topeng kesini"
"Jangan khawatir Diah Kencati, kulitnya sangat sensitif, makanya perlu tabir surya"
"Oh begitu, paman saya juga boleh donk dapet satu"
"Wah maaf Putri, ini khusus dibuat untuk saya alias edisi terbatas"
jawab si Tabir Surya.
"wah tidak mau, pokoknya untuk saya juga ada"
"iya, iya, paman akan buatkan untuk kamu"

//===============>

Dua tahun sebelum pemberontakan di Tusamana.

Padang pasir Bromo, Laboratorium Riset Militer Majapahit. Kabut tipis masih menyelimuti Bromo, beberapa prajutit nampak menarik sebuah Meriam Tapel, juga nampak beberapa ekor kerbau. Ini adalah area 05 Bromo, sebuah tempat sangat rahasia dibumi Majapahit. Disinilah riset-riset terbaru mengenai senjata dibuat.
"Mpu Nala, ada apa begitu tergesa-gesa memanggil saya"
Sukiman berjalan bergegas berdampingan dengan Mpu Nala.
"Senopati, saya akan tunjukan senjata terbaru yang berhasil kita kembangkan"
"Senjata apa itu Nala"
"Sukiman, ini pemgembangan terbaru dari Meriam Tapel"

Bersambung ...