Mungkinkah Ada Cinta Dihati Sukiman, Senopati Terkasih Majapahit.
Novel, 14 Maret 2006
Kamar ini agak temaram, karpet merah, kelambu, serta seprei
berwarna merah membuat kamar makin hangat. Aroma dupa yang wangi
semerbak menyelimuti ruangan.
"Ohk, ohk, ohk" lelaki yang tak lain adalah Sukiman, bangun dari
pembaringannya, peluh disekitar wajahnya membasahi pakaiannya.
"Dasa, sudah dua hari ini batuk menggangguku, tanpa sebab,
tiba-tiba saja batuk, membuatku sulit tidur"
Tabib Dasaperak memegang segelas susu jahe.
"Minumlah susu jahe ini, saya berharap kesehatan anda baik-baik saja."
"Saya sudah memeriksa, tidak ada yang perlu dicemaskan."
//==============
Digeladak, Sukiman memandang iring-iringan Jung Majapahit.
"Sukiman, mengapa wajahmu kelihatan berkerut."
"Paman Dasa, dua hari lagi kita tiba di Tusamana, saya
masih takut, membayangkan kedua pasukan kita bertemu dalam
sebuah pertempuran."
"Hmn, hmn", Dasaperak membatin, "benar juga, petaka apa yang akan terjadi."
"Ohk, ohk, okh" Sukiman terbatuk-batuk, sampai minuman ditangannya tumpah.
"Oh Sang Pencipta Jagad, ada apa rupanya".
"Senopati, tenangkan dirimu."
"Sesuatu telah terjadi, tapi saya tak tahu, tidak biasanya saya
batuk seperti ini."
"Saya khawatir, jika batuk ini terus mengganggu, kesehatan saya juga
terganggu".
//==============
Nun jauh disana, diKadipatenan Tusamana, seorang gadis rupawan terbaring
lemah.
"Diah makanlah telur ini barang sesuap, agar kau dapat sehat."
seru Nyai Banyak, membujuk sang putri.
"Ibu aku tidak ingin makan apapun, kecuali Senopati Terkasih Majapahit
ada disini"
"Putriku, dia itu teman ayahmu, bukan teman sebayamu, lagi pula
dia masih digurun."
Gadis itu membalikkan wajahnya, "Bukankah Paman Ra Sewu berjanji menyelamatkan
kita semua."
"Bu, Paman Ra Semi juga teman ayah kan, kog malah nahan ayah, ih jahat"