Rona Merah Senja di Majapahit.

Novel, 27 Pebruari 2006

Peb 1359, Masa keemasan Majapahit masih menampakkan sinarnya, dua matahari Majapahit menjadi poros masa keemasan tersebut. Matahari kembar itu tak lain lain adalah Prabu Rajasanagara Hayam Wuruk dan Mahapati Gajah Mada. Kehidupan rakyat makmur sentosa, seperti diberitakan kitab Ling-wai-tai-ta yang disusun Chou K’u-fei di tahun 1178 dan di kitab Chu-fan-chi oleh Chau-Ju-Kua di tahun 1225, misalnya:

  • Pertanian, peternakan, serta perdagangan maju dan kerajaan penuh perhatian
  • Tidak ada hukuman badan, yang bersalah di denda emas
  • Pencuri dan perampok yang tertangkap dibunuh
  • Alat pembayaran adalah mata uang emas dan perak
  • Raja berpakaian sutera, sepatu kulit, memakai emas-emasan, rambut disanggul
  • Raja keluar naik gajah atau kereta, diiringi 500-700 prajurit dan rakyat jongkok
  • Raja dibantu 4 menteri, gaji dari menerima hasil bumi/lainnya sewaktu-waktu

Kedamaian dan kemakmuran menjadikan Majapahit sebagai negara maju, namun cobaan selalu datang, pemberontakan kerap terjadi, seperti dalam kisah ini :

Trowulan, Ibukota Majapahit. Deru tapak kuda terdengar jelas, hentakan kaki kuda dijalan memecah keheningan. Pria diatas kuda itu menarik tali kekang untuk melambatkan laju kuda. Wajahnya kecoklatan, butir-butir keringat menambah anggun wajahnya yang persegi. Pria itu memasuki gerbang keraton.
"Selamat siang Tuan Senopati, Mahapatih telah menunggu anda"
Prajurit pengawal memberi hormat. Seorang prajurit menuntun kuda itu, sementara pria diatas kuda dengan sigap, melompat turun.

Suasana rapat terasa tegang, disana tampak Prabu Hayam Wuruk, Mahapatih Gajah Mada, Rakrian Mentri Dalam Negeri Lembu Alam. Tiba-tiba diluar sana,
"Yang Mulia, Senopati Sukiman menghadap".
" Silahkan masuk Senopati".
Pria tadi yang tak lain adalah Senopati Sukiman memasuki ruangan rapat.
"Bagaimana perjalananmu dari Gurun" Ujar Gajah Mada.
"Tak ada halangan, kemarin kami merapat di Tuban"
"Ada apa kiranya Mahapati mendadak memanggil saya ke Istana"
"Begini Sukiman, pemberontakan di Tusamana telah berlansung tujuh hari,
pasukan Majapahit yang dipimpin Senopati Ra Sewu belum berhasil memasuki kota.
Baginda cemas, kalau perang terus berlangsung akan banyak prajurit yang menjadi korban,
juga keselamatan Adipati Banyak Oke dan Putrinya Diah Kencati yang ditawan para pemberontak."
"Bagaimana keadaan kota paman?"
"Kota sepenuhnya dikuasai pasukan Ra Semi, ada sekitar 10.000 pasukan kavaleri dan 40.000 pasukan infantri yang membelot dan berpihak pada Ra Semi"
"Sukiman, saya ingin menunjukmu untuk memimpin pertempuran disana, Baginda ingin agar pemberontakan segera padam, sedikit mungkin terjadi korban jiwa. Ingat Senopati bagaimanapun mereka adalah prajurit Majapahit, mereka hanya terhasut oleh ajakan Ra Semi."
Gajah Mada memandang lurus kearah Senopati Sukiman.
"Bersamamu akan didukung 7.000 pasukan kavaleri Kuda Api dan 20.000 pasukan infantri Jatisari."
Rapat berlangsung singkat, Sukiman melangkahkan kaki meninggalkan ruangan. Belum jauh dia melangkah suara Gajah Mada menghentikan langkahnya.
"Tunggu sebentar Sukiman"
"Ada apa Paman"
"Saya dengar berita mengenai Islam, kabarkan padaku mengenai Islam"
"Islam adalah mengakui bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah"
"Mengerjakan Shalat, Puasa, membayar Zakat dan Melaksanakan Haji bagi yang mampu."
"Saya ingin kau memahaminya dengan baik"
"Tentu saja paman, sebagai Muslim, saya harus memahaminya."

Bersambung ...