Rapat di Kemah Senopati Sukiman
Novel, 27 Mei 2006
Kemah Senopati Sukiman.
Kemah besar yang terdiri dari dua bilik, satu untuk beristirahat dan satunya ruang kerja. Diruang
kerja telah hadir Patih Anuken Tangkas, Tumenggung Adi SatyaMukti, Mpu Dasa Perak, Senopati Ra Sewu
dan tentunya Sukiman.
Diatas meja jati yang tipis, dibentangkan peta Tusamana yang terbuat dari kulit.
"Benteng Tusamana saya perkirakan diperkuat sekitar 20 ribu pasukan infantri, sementara
ada 10 ribu pasukan kavaleri di barat kota. Pasukan ini di pimpin Arya Tanding"
Jelas Sukiman.
"Bukankah pasukan Arya Tanding dari Armada Utara Majapahit, Senopati"
bertanya Adi SatyaMukti.
"Benar sekali, Ra Semi berhasil menarik simpati Arya Tanding"
"Tumenggung Adi SatyaMukti dan Patih Tangkas akan memasuki kota dari sebelah barat,
bawalah sejumlah meriam tapel dan tiang pemanah untuk membantu membuka pintu gerbang"
"Pasukan Jatisari dan Kuda Api akan masuk disini bersama saya dan Kakang Ra Semi"
Sukiman menunjuk Benteng Tusamana.
"Patih Tangkas, bawalah keris Kyai Sapu jagat, acungkanlah dimedan perang, ingat Patih
siapa saja yang tidak memerangi kita, maka mereka aman, siapa saja pasukan Ra Semi yang
tidak memerangi kita, maka mereka aman dan diampuni oleh Majapahit.
Itulah amanat Mahapatih Gajahmada"
Suara Sukiman terdengar serak.
"Setelah memasuki kota, kita akan bertemu di alun-alun kota"
Sukiman sengaja meminjamkan keris Sapu Jagat untuk mengangkat moral dan daya juang prajurit.
Rapat itu singkat saja, selepas shalat Dzuhur makanan dihidangkan. Aroma bau makanan bahkan
tercium sampai kebenteng Tusamana yang berjarak hanya satu kilometer.
//==================>
Dua orang prajurit Ra Semi dibenteng.
"Jaka, sedari tadi kita melihat banyak tungku api dan kuali besar di arah sana"
Kata Prajurit1 sambil menunjuk kearah Pasukan Majapahit.
"Benar, wah baunya sampai kesini, ini sop kambing"
Sahut prajurit2.
"Bukan, ini gulai kambing. Pasti gulai kambing"
"Ah, pokoknya kambing, mungkin juga sate kambing.
Aku jadi mules nih, kapan giliran jaga kita diganti"
"Tidak berapa lama lagi, iya aku sudah nggak tahan,
sehabis shalat, ingin makan, mungkin saja Senopati Sukiman
mengirim sebagaian gulai kambing ke kita"
"Ngawur kamu"
"Mengapa tidak, kita inikan prajurit Majapahit juga.