Prajurit dan Gadis Serta Ibunya
Novel, 03 Mei 2006
Kota Tusamana, puluhan ribu pasukan dibawah komando Ra Semi melakukan apel kesiagaan.
Ra Semi dengan menyala-nyala mengobarkan semangat pasukan untuk mempertahankan Tusamana.
Dia memang bukan saja salah seorang jenderal Majapahit yang tangguh namun juga seorang
diplomat yang ulung.
"Saya telah mengirim utusan kepada Sukiman, pendirian kita jelas, jika pasukan Majapahit
hendak menembus benteng Tusamana, kita akan melawannya dengan kekuatan" Kata Ra Semi
berapi-api.
Disalah satu sudut kota Tusamana, disebuah rumah yang nampak asri. Suasana kesiagaan pasukan
tentara jauh berbeda dengan keadaan didalam rumah. Sunyi hanya suara percakapan yang pelan
terdengar.
"Bu sudah hampir tengah hari namun tidak ada tanda-tanda untuk mengungsi"
Seorang gadis manis berkata kepada ibunya.
"Kata komandan tentara, kita cukup didalam rumah, jangan keluar"
"Ibu juga khawatir, ayahmu ditempatkan di selatan kota"
"Bu, menurut kabar Mahapatih Gajahmada mengirim Senopati Sukiman kesini"
"benar, seharusnya kesepakatan damai dapat tercapai"
"mengapa bisa begitu"
"karena baik senopati maupun Ra Semi adalah jenderal Majapahit
dan keduanya pernah bersama dalam dua peperangan, namun kini
kedua jenderal itu harus berhadapan satu dengan lainnya"
Sang Ibu menghela napas sedih.
"Apakah akan terjadi prahara Ibu"
Sekonyong-konyong seorang prajurit nylonong menyela pembicaraan.
"Wah, tidak mungkin terjadi huru-hara, pasti ada jalan untuk
menyelesaikan. Maaf Ibu, minta tolong air minumnya"
"Lara, tolong ambilkan mas ini minuman"
"Kog kamu yakin toh mas" Ibu itu malah bingung.
"Buktinya sampai sekarang, pasukan gabungan dari Pusat belum menyerang"
"Pasti Senopati sedang memikirkan cara, bagaimana melaksanakan perang
tanpa perang" prajurit tadi menjelaskan.
"Waduh-waduh, apa asih maksudnya, Ibu jadi nggak ngerti"
"Perumpamaannya seperti ini, seperti memancing ikan mas, diperairan yang
penuh dengan piranha. Cukup menangkap ikan masnya saja, nggak
perlu menangkap piranha"
sang prajurit berfilsafat.
"Mas itu namanya salah, diperairan dimana banyak piranha, disana tidak ada ikan mas,
ah mas ini becanda sih"
gadis tadi meletakan gelas minuman.
"Silahkan mas diminum"
"Namanya juga perumpamaan, namun pesannya seperti tadi"
Sang Prajurit menyeruput teh manis.
"Waduh mantep tenan, panas-panas gini minum teh panas"