![]() |
||
|
Perspektif Baru Melebarkan Sayap. Berita, 30 September 2005 Buku "PERSPEKTIF BARU MELEBARKAN SAYAP" yang diluncurkan kemarin malam (29/9) bersama
Konrad Adenauer Stiftung dari Republik Jerman yang mendukung PERSPEKTIF BARU selama dua tahun
terakhir.
Perspektif Baru Melebarkan Sayap Buku ini merupakan kompilasi kedua wawancara Perspektif Baru setelah buku berjudul "Mencuri Kejernihan dari Kerancuan" yang diterbitkan pada 1998. Buku Perspektif baru "Melebarkan Sayap" menyajikan beberapa hasil wawancara selama 2003-2005. Acara itu sendiri tidak terlalu keras dan tidak menganjurkan perlawanan terhadap sebuah rezim. Namun banyak yang menilai bahwa talk show dengan gaya lepas tanpa teks, tanpa topik merupakan langkah pertama melepaskan diri kita dari belenggu sensor pemerintah dan sensor diri. Klipping koran dalam dan luar negeri menjadi tumpukan lumayan kalau dikumpulkan menjadi bahasan mengenai "PERSPEKTIF" dan maknanya dalam transisi Indonesia ke arah kebebasan bicara.
Penekanan wawancara lebih difokuskan pada penyampaian perspektif dan kejernihan berpikir. Ini semua tergambar jelas dalam buku "Melebarkan Sayap". Tiada konsistensi pemilihan topik tertentu namun lebih pada pemunculan perspektif jernih, cara pemberdayaan orang biasa, dan rasa yang dihayati orang biasa. Perspektif, rasa (suara), dan cara orang biasa adalah sumber inspirasi perspektif baru yang tiada habisnya. Dalam buku melebarkan sayap untuk sisi perspektif ada beragam narasumber seperti M. Syafii Anwar, Azumardi Azra, Romo Sandyawan, hingga mahasiswa bernama Neda Tanaga. Sedangkan sisi cara antara lain ada cara-cara Novianka Nasution untuk menghadapi pasca tsunami dengan cerdas dan dokter Purnamawati memberdayakan masyarakat untuk menggunakan obat secara bijak.
Peluncuran buku "PERSPEKTIF BARU MELEBARKAN SAYAP" yang dipandu lansung oleh Wimar Witoelar, pembawa acara Perspektif Baru menghadirkan banyak tokoh dan sejumlah narasumber. Para narasumber menyampaikan pandangan dan pikiran dari berbagai aspek, karena memang kehidupan selalu diwarnai oleh empat hal Perspektif, Perjuangan, Cara dan Rasa. Jadi wajar saja bila Dr Nobert Escborn, kepala perwakilan Konrad Adenauer Stiftung (KAS) di Indonesia mengatakan dalam sambutan buku tersebut, "Artikel-artikel ini mendokumentasikan perkembangan Indonesia selama masa tersebut sehingga berguna sebagai referensi bagi karya ilmiah dan cermin perkembangan kemasyarakatan Indonesia. |
||