![]() |
||
|
Perkembangan Aceh Setelah Satu Tahun Tsunami. Berita, 2 Januari 2006 Saat ini geliat perekonomian Aceh mulai membaik, ini ditandai dengan berfungsinya pasar-pasar. Roda ekonomi yang membaik ini ditandai juga sebagian besar toko swalayan atau supermarket sudah beroperasi normal. Perjanjian damai di Aceh telah membawa kemajuan, hal ini dilanjutkan dengan pembubaran TNA tanggal 27 Desember 2005 yang secara resmi tertuang dalam surat yang berkop Acheh Sumatra National Liberation Front (ASNLF) yang berpusat di Norsborg Swedia yang ditandatangi Panglima TNA Muzakkir Manaf dibacakan juru bicara militer GAM Sofyan Dawood. Pembubaran ini dilakukan di kantor GAM didesa Lamdingin, Kuta Alam, Banda Aceh. Dengan demobilisasi TNA dan Persenjataannya diharapkan dapat memuluskan jalan perdamaian, sementara itu dana untuk rekontruksi dan rehabilitasi Nanggroe Aceh Darussalam dan Nias yang telah dicairkan sebesar $ 1,8 M atau sebesar Rp 17,6 triliun. Bantuan asing yang sudah komit tapi belum dicairkan sebesar $ 4 M atau sebesar Rp 39,2 triliun. Pembangunan Aceh ditahun 2006 diarahkan kepada pembangunan fisik berupa 1.800 rumah, 430 km jalan, 435 km jembatan dan 72 jaringan irigasi yang dapat mengairi 41.229 ha tanah pertanian. Juga akan dibangun 182 sekolah dan 145 puskesmas. Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh/Nias diingatkan harus bertindak progresif dalam membangun kembali Aceh dan Nias pasca-tusnami, dengan lebih mengutamakan kepentingan masyarakat daripada kepentingan-kepentingan lain yang sifatnya bias, seperti kepentingan kelompok. "Kalau BRR Aceh/Nias terindikasikan penyimpangan, aparat penegak hukum harus cepat bertindak tegas karena ini menyangkut kerja bersama yang menjadi kepedulian bukan saja dalam negeri tapi juga internasional," kata anggota Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (F-PPP),HM Tamam Achda, di Jakarta, Selasa. |
||