Percakapan di Balairung Tusamana
Novel, 26 April 2006
Baru saja Tabir Surya melangkah beberapa langkah kedalam ruangan, tiba-tiba
sesosok tubuh besar menghampirinya dan merenggut bajunya.
"Prajurit, katakan padaku apa yang hendak dilakukan Sukiman"
Ra Semi nampak sangat murka.
"Maaf Pak, apa maksud anda Tuan Ra Semi"
"Saya tidak leluasa berbicara jika anda begitu dekat"
Tabir Surya balik bertanya.
Ra Semi melepaskan cengkramannya lalu perlahan melangkah mundur.
"Sukiman, menambah pasukan dari Pajajaran dan Armada ke-2,"
"Bukankah dia menginginkan konflik ini diselesaikan dengan damai,"
"Namun mengapa begitu besar pasukan yang digelar Majapahit"
"Tuan Ra Semi, Pasukan dengan kekuatan sebesar itu bukan untuk
menyelesaikan konflik dengan perang. Majapahit ingin memberi rasa
aman kepada segenap wilayah Majapahit, bahwa konflik apapun dapat
diselesaikan. Majapahit juga ingin agar negara sahabat, tetangga dan
asing melihat bahwa Majapahit mempunyai kekuatan yang besar yang
mampu menjaga kestabilan dan keamanan Majapahit"
"Lalu sampai kapan batas damai ini"
Ra Semi memegang surat dari Sukiman.
"Setelah anda memberi surat jawaban, setelah prajurit anda tiba kembali
dengan aman ke benteng Tusamana. Saat itu Majapahit akan melakukan serangan
kapan saja, namun ada dapat menunda memberi jawaban sesuka masa yang anda
inginkan Tuan Ra Semi"
"Baiklah, katakan kepada Sukiman kami akan mengirim utusan untuk membalas
suratnya sebelum ashar"
Tabir Surya dan Tabib DasaPerak meninggalkan benteng Tusamana.
//==============>
Perkemahan Pasukan Majapahit, ratusan tenda terbentang digaris pertahanan
Majapahit. Pasukan Kuda Api sedang menyiapkan kuda mereka, meletakkan
pelana, busur dan anak panah, serta kendi minuman. Sementara pasukan Jatisari
sedang mengenakan baju sirah (baja) mereka, mengenakan keris dan pedang.
Ditengah kesibukan tersebut dua orang prajurit berkuda mendekati kemah Senopati
Sukiman, keduanya melambatkan lari kuda. Tanpa membuang waktu mereka bergegas
hendak memasuki kemah.
Prajurit jaga mengenali mereka.
"Tuan Senopati, Patih Anuken Tangkas dan Tumenggung Adi SatyaMukti telah menunggu
Anda"
"Bagus, tetap ditempatmu prajurit"
Balas Mpu Dasa Perak.
"Cuaca disini panas sekali Mpu"
"Benar, udaranya sangat kering, bahkan tiupan anginpun terasa panas"
"Apakah Senopati akan segera menemui mereka"
"Tidak sekarang, nanti setelah dzuhur, Mpu sampaikan kepada para koki
untuk memasak sup kambing. Udara panas ini akan nikmat sambil makan
sup kambing, saya pikir semua prajurit akan senang"
"Tentu saja, saya akan kesana, silahkan beristirahat"