Malam Itu di Blok M
Fiksi, 26 September 2006
Gerimis masih saja tidak beranjak, sejak sore tadi hingga jam 7 malam ini masih
gerimis. Taksi itu sudah dua kali memutar jalan ini, kelihatannya sedang mencari
sesuatu atau seseorang.
"Mas Pelan aja" suara pria yang tak lain adalah Antant.
"Hai, lagi tunggu dimana, aku sudah sampai, sudah memutar dua kali namun
aku tak melihatmu"
"di Ayam bakar itu" sahut suara wanita diseberang sana.
"Mas mas disini aja"
Taksi itu berhenti, Antant bergegas keluar sambil mengenakan payung.
Angin malam berhembus sepoi, menerpa wajahnya menyibak rambutnya yang
agak panjang.
Antant berdiri didekat perempatan, melihat sekeliling. Tatapannya berhenti saat
melihat seorang gadis dengan baju merah sedang duduk di rumah makan Ayam Bakar.
Tempat makan ini memang diruang terbuka, hanya meja dan kursi yang ringkas serta
tenda yang melindungi pengunjung dari hujan.
"Sudah lama, kog belum pesan apa-apa" Antant duduk didepan gadis itu.
"memang nunggu mas dulu, mau makan apa" gadis itu bertanya
"sama seperti kamu, jangan lupa susu jahe, dingin begini memang bagus minuman
yang hangat" balas Antant.
"Liliane ada apa, saya kan harus berkemas malam ini, keretanya besok pagi berangkat"
"ada yang harus jelas diantara kita sebelum mas berangkat"
"masalah yang mana?"
"masalah hubungan kita"
"bukankah kita sahabat, apa ada..."
"bukankan lebih dari sahabat"
Antant termangu kemudian menjawabnya dengan pantun (ini hanya terjadi disini, jangan
melakukannya didunia nyata)
Seperti sang Angin akulah sang Bayu
berada disini, berada disana, berada dimana kau ada
Engkau Putri, jadi dambaan sang kesatria
Jika sayembara digelar, banyak kesatria berlaga
Bukan hanya kesatria seperti Usamah, panglima termuda dijaman Khilafah
yang akan berlaga
aku juga pasti datang
"Mas tahu nggak sih, kepanjangan. Intinya adalah hubungan kita harus selesai"
"Bukankah hubungan kita udah jelas"
"Maksudnya selesai sebagai pasangan dibahtera, bukan menjadi dua orang sahabat"
"Liliane, besok saya harus pergi, saya tak bisa memastikan apa yang akan saya
lakukan kedepan. Sebaiknya seseorang yang lebih pasti hadir disini untukmu"
"Saya bisa menerima apa saja, lalu mengapa hubungan kita tak bisa"
"sayang itu filosofi yang salah, semestinya saya bisa menerima kelebihanmu,
sementara kekuranganmu sayalah yang menjaganya sehingga menjadi kelebihanmu"
"Ahh, gimana sih, serius nih"
"Iya, jam putih ditanganmu itu adalah sebuah janji, apakah waktu seminggu terlalu
lama?"
"tidak, saya hanya memastikan sebuah jawaban" wajah Liliane merona merah
"hmm, kayak sinetron saja. Tapi makan disini memang romantis"