Semestinya Bom Bali 2 Tidak Terjadi, Jika Kinerja Intelejen Bagus.

Berita, 07 Oktober 2005

Ledakan bom bali 2 yang terjadi minggu lalu (1/10), mengagetkan banyak orang, terlebih lagi baru saja terjadi kenaikan BBM. Belum lepas kejadian bom yang menghantam ibukota Jakarta, seperti bom Kuningan. Kini terjadi lagi bom yang sangat memilukan.

Bom saat ini sangat identik dengan Indonesia, mengapa teroris dapat melakukan aksinya dengan begitu leluasa. Sementara kita punya aparat intelejen, terutama BIN (Badan Intelejen Nasional), juga di TNI dan Polri memiliki satuan intelejen. Bukankah semestinya pihak BIN dapat mencegah aksi teror tersebut atau memberi peringatan kepada masyarakat akan adanya ancaman.

    Mari kita lihat kejadian-kejadian bom yang telah terjadi sepanjang 2000-2005, peristiwa bom itu antara lain :
  • 2003, Hotel JW Marriott
  • 2003, Wisma Bhayangkari Mabes Polri
  • 2003, Bandara Soekarno-Hatta
  • 2003, Bom di Cijantung
  • 2004, Bom Pekanbaru
  • 2005, Bom Bali 2

Banyaknya peristiwa bom harusnya menjadi perhatian pihak terkait, untuk mengupayakan tindakan antisipasi terhadap kejadian tersebut. Dewan keamanan PBB bahkan sudah menyerukan agar dunia internasional membantu Indonesia untuk memerangi terorisme. Bahkan AS menawarkan hadiah $ 10 juta bagi informasi yang mengarah pada penangkapan terdakwa utama.

Lantas bagaimana agar aparat Intelejen lebih efektif untuk mencegah tindak terorisme, langkah awal adalah adanya koordinasi semua badan intelejen agar dalam bertindak lebih taktis dan efisien. Saat ini polda (Kepolisian Daerah) Jawa Timur akan segera menyebar 10 ribu poster tersangka bom bali 2 yang telah diidentifikasi polri tanggal 3 Oktober lalu.