Aku Melihatmu di Terminal Kampung Rambutan.
Fiksi, 15 Februari 2005
Suara hujan diluar sana, membuat gigiku gemeretak. Bus yang kutumpangi
berjalan lambat, karena hujan yang begitu deras.
Aku baru saja memperhatikan
pemandangan diluar sana, tiba-tiba Prok Tak Prop (sebuah tas ransel jatuh),
Hampir saja menimpaku.
Rian : "Woh berat sekali (sambil memegang ransel tersebut)"
Lili : "Maaf ya Mas, tadi mau mindahin tas saya ke tempat Mas,"
"Disana kursinya basah, air masuk disela-sela jendela"
Rian : "Oh silahkan, biar tas ini saya taruh diatas,
nama saya Rian"
Lili : "Makasih ya Mas, saya Lili"
Kejadian tadi berlalu begitu saja, kemudian situasi disini serasa lebih
dingin dibanding diluar sana. Sebenarnya aku tidak begitu ngantuk, namun
kubiarkankan saja mataku terpejam, sambil mendengar alunan hujan.
Lili : "Rian lihat "
Untung saja suara itu lembut tidak membuatku kaget.
"Ada apa sih"
Lili :"lihat disana, rumah kecil itu"
"didesa, itu pemandangan yang lazim"
Lili :"bukan begitu, hidup didesa itu begitu indah, sederhana namun begitu tulus"
Aku memandangnya tajam, hujan sudah mulai mereda hanya gerimis-gerimis kecil.
Dia masih melihat rumah tadi, yang sudah mulai tidak kelihatan.
Rian : "Wah, apakah itu berarti kamu lebih senang tinggal didesa seperti ini,
dari pada di Jakarta"
Lili : "Disini udaranya lebih bersih, apalagi kesederhanaan masyarakat, keakraban menjadi hal yang begitu indah"
Rian : "Bagiku juga tak masalah, saya bisa menjadi pedagang klontong atau mengurus padi disawah"
"Hei, ada apa?, mengapa senyum-senyum seperti itu"
Perjalanan ke Jakarta serasa begitu cepat, kami ngobrol ini dan itu. Tentang pekerjaan,
mengapa dia sering ke Bandung dan lain-lain. Bus sudah memasuki terminal Kampung Rambutan, hujan rintik-rintik
masih menyelimuti seputar terminal.
Rian : "Lili mau ke Pasar Minggu kan? bareng aja soalnya saya ke Lebak Bulus"
Lili : "Boleh sih, tapi jam 3 pagi begini, kayaknya kendaraan umum kesana belum ada"
Rian : "Jangan kawatir, aku dijemput sama teman"
Kami turun turun dari bis, sambil sepayung berdua menunggu teman saya datang.
"Tot, Tooot" suara klakson disebelah, membuat hati bahagia, bener juga Andi,
selalu tepat waktu.
"Ayo, itu si Andi"
Kami bergegas masuk kemobil.
"Halo, halo, ada yang duduk didepan donk" suara Andi galak
"Oks deh kakak, biar aku aja yang didepan, oh ya Di kenalkan Lili"
"Lili ini Andi, dia seorang teman yang baik hati dan periang".
Lili : "Mas disini aja"
Andi menepikan mobil kekiri.
Rian : "Udah sampai ya"
Lili : "Iya inikan udah di Pasar Minggu"
Rian : "Kita antar aja sampai kerumah, bukan begitu Di"
Lili : "Nggak apa-apa mas, biar kedalam pake ojek"
Ojek dipinggir jalan dengan begitu sigap, Lili sudah ada diatas.
"Bener, kita nggak nggak boleh ngantar"
Lili : "Bener nggak apa-apa, thanks ya Mas, sampai ketemu nanti"
"Dahh"
Sial ojek itu begitu cepat pergi, padahal, saya ingin menanyakan sesuatu,
dengan gundah akhirnya aku berjalan ke arah mobil.
"Ayo Andi, maaf ngerepotin"
"Man ada yang datang tuh", brengsek si Andi, harusnya dia panggil gue Rian
"Ups, ada apa!" motor itu menghampiriku
"Hei, ada yang tertinggal" ternyata Lili
Lili : "Bukan, kesini deh, ada yang mau saya bisikin"
Aneh-aneh aja, "yap, ada aps sih"
Lili : "Dont lie to me, I have visited you site, and I know your name Sukiman"
Rian : "Please think positif, Rian is my gaul name"
Rian : "Can we meet later, maybe next week"
Lili : "Tentu saja sayang, you hold my name card, that is a valid card"
Wush ...., ojek itu kabur.
"Oke, jangan kawatir, aku pasti akan menghubungi mu" pikirku.
"Man ada apa" andi keluar dari mobil.
"Baik-baik saja, dia hanya memanggilku sayang"
"Ho ho ho ho, jadi sekarang udah ganti nama lagi"
"Kurang ajar, ayo Di, kita pulang"
Akhirnya, kami melanjutkan perjalanan, mobil melaju dengan cepat
menembus keheningan subuh. Untung aja Andi nggak pake motor,
bisa flu gue kalo pagi-pagi gini naik motor.