Menangkap Kambing di Tepian Kali Nusadaru
Novel, 07 Juni 2006
Beberapa prajurit bergerak cepat di lorong ruangan kearah Nyi Banyak dan Putrinya ditahan.
Mereka menghampiri prajurit jaga didepan kamar, tidak begitu lama prajurit jaga membuka
pintu dan tiga orang prajurit masuk keruangan.
Nyi Banyak hanyak terhenyak begitu tiga orang prajurit masuk, cangkir dipegangannya hampir
saja jatuh.
"Ada apa ini, mengapa tak mengetuk pintu terlebih dahulu"
Salah seorang prajurit prajurit menerangkan maksud mereka.
"Maaf Nyi Adipati, komandan memerintahkan memindahkan anda berdua ketempat yang lebih aman"
"Ketempat lebih aman bagaimana? kami ingin diruangan ini saja"
Diah Kencati memeluk erat Ibunya.
"Ibu mengapa kita mesti dipindah"
Prajurit lainnya mengemasi pakaian, dan mengikatnya kedalam buntelan. Nyi Banyak dan putrinya
tidak dapat berbuat banyak, mereka mengikuti perintah prajurit tersebut. Diluar rumah sudah
nampak kereta kencana.
"Silahkan Nyi Adipati" seorang prajurit membuka pintu kereta.
Keduanya bergerak masuk.
"Kusir, ke Lawangtamu secepatnya"
Prajurit tadi berkata ke kusir kereta.
Kereta berjalan dengan dikawal delapan orang pasukan kavaleri.
Nyi Banyak nampak cemas melihat putrinya.
"Ibu hendak kemana kita dibawa, bukankah hal ini makin membuat
kakak Sukiman sulit menemukan kita"
"Jangan khawatir Diah, kita berdoa saja, agar orang-arang paman Ra Semi tidak
berbuat jahat, mudah-mudahan Senopati Sukiman dan pasukannya bisa menolong kita"
//================>
Dibenteng sebelah barat tepatnya setengah kilo dari benteng barat melintas kali Nusadaru,
sembilan orang prajurit Jatisari sedang patroli dipimpin Bekel Wonggede. Tandinya hanya
suara air yang mengalir namun samar-samar terdengar suara langkah diseberang kali.
"Siaga ! formasi horisontal" Bekel Wonggede memberi perintah.
Semuanya sianga berdiri berjajar ditepi kali, pedang mereka terhunus.
"Prak prak " dua orang lelaki menyeberangi kali yang lebarnya cuma dua meter dan kedalaman airnya hanya
sebatas lutut. Mereka sedang mengejar kambing yang berlari kearah Bekel Wonggede dan pasukan.
"Berhenti, atau ketebas rambut kalian" dua orang prajurit bergerak maju dan menghunus pedang kedepan.
Empat orang dari seberang kali menyeberang, menghampiri kedua teman mereka.
"Ada apa pak prajurit" kata salah seorang dari mereka
"Kalian tidak boleh menyeberangi kali, kalian harus tetap dalam benteng dan berada dirumah kalian"
"Ada apa ini" para penyeberang mencabut keris masing-masing.
Suasana menjadi tegang, serentak pasukan kecil tadi mengepung para penyeberang.
"Kalian dilarang menyeberang, kalian harus kembali, apa maksud kalian mencabut keris!"
"Kami hanya ingin menangkap kambing kami"
"Mundurlah dan sarungkan keris kalian"
"Bagaimana kambing kami?"
"Kami yang akan menangkap, kalian tunggu saja diseberang"
"Baiklah" para penyeberang menyarungkan keris mereka,
"Kami akan menunggu"
Kepungan pasukan dibuka, mereka dibiarkan kembali keseberang.
Bekel Wonggede menyarungkan kembali pedangnya.
"Prajurit 1, 2 dan 3 cepat tangkap itu kambing"
"Siap laksanakan" ketiganya segera mengejar kambing tersebut.