Gencatan Senjata di Tusamana.

Novel, 22 Maret 2006

Desir angin berhembus kencang, pantai Tusanama yang panas makin panas dengan kehadiran pasukan Majapahit dibawah pimpinan Senopati Sukiman. Pasukan Infatri Jatisari dan pasukan Kavaleri Kuda Api sedang mendirikan tenda-tenda, garis pertahanan pasukan Majapahit berjarak hanya 1 Km dari benteng Tusamana.

Inilah perang yang paling modern yang dilakukan Majapahit, namun juga menjadi polemik karena ini adalah perang saudara. Mesin-mesin perang dikerahkan (meriam Tapel) untuk menjebol benteng Tusamana, meriam tapel (dahulunya batu, namun atas jasa para mpu saat itu sudah diganti dengan bola baja) diarahkan hanya kearah tembok benteng untuk mencegah jatuhnya korban dari rakyat sipil.

Dua puluh meriam diarahkan ke tembok benteng, dengan formasi bulan sabit, mesin-mesin ini melontarkan bola-bola baja kearah tembok benteng. Sudah beberapa kali tembok benteng jebol dan memberi celah namun segera pasukan Ra semi, begitu cepatnya mereka membangun kembali tembok yang roboh sehingga tidak memberi celah pasukan infantri Majapahit masuk kedalam benteng.

Serangan begitu bertubi-tubi, namun selama sepuluh hari tidak menampakkan hasil. Kemarin malam pasukan inti dari Majapahit tiba dipantai Tusamana, segera setelah pergantian panglima perang, Sukiman menghentikan perang. Suasana hening tapi mencekam, mesin-mesin perang yang baru didaratkan segera dibawa ke garis pertahanan, ratusan prajurit dan puluhan sapi dikerahkan menarik meriam-meriam tersebut, sementara pasukan Jatisari dan Kuda Api beristirahat di tenda masing-masing.

Sinar mentari yang lembut baru saja menyirami bumi, dua orang penunggang kuda dari arah garis pertahanan Majapahit memacu kudanya kearah benteng.

Beberapa prajurit Ra semi bergegas menemui Arya Tanding, kepala pasukan Ra Semi.
"Pak Arya Tanding, dua orang prajurit berkuda Majapahit sedang menuju pintu gerbang Benteng, kemungkinan saat ini sedang berada didepan pintu gerbang"
"Siapa saja mereka, apa maksudnya Sukiman secara sepihak menghentikan perang"
Arya tanding mengarahkan pandangannya keluar.
"Prajurit, bawa kedua orang itu menghadap saya"
"Baik, Pak Arya" prajurit-prajurit tersebut kembali.
"Apa maksudnya Sukiman, menghentikan perang sementara dia membawa pasukan begitu besar"
Arya Tanding membatin.