Ada Bubur Ayam di Tusamana.
Novel, 29 Maret 2006
Kedua orang prajurit Majapahit segera memasuki ruangan tengah. Bangunan Rumah berbentuk
segi empat itu begitu luas, setelah melewati ruangan lapis pertama, kedua orang itu
menjumpai taman dengan sebuah pendopo ditengahnya. Seorang pria dengan sepuluh orang
pengawal berada di pendopo tersebut.
Dengan wajah tegang kedua prajurit itu menuju pendopo.
"Salam wahai Komandan Arya Tanding"
Kedua prajurit tersebut bersamaan memberi salam kepada Arya Tanding.
Arya Tanding hampir saja copot jantungnya.
"Bumi gonjang-ganjing, langit kerlap-kerlip,
apa yang terjadi dengan wajahmu, bubuk putih apa yang melekat diwajahmu."
"Maaf Komandan, ini namanya 'Sun Protection' (Anti Panas Matahari),
apakah Komandan belum pernah memakainya, krim ini sangat baik untuk
melindungi wajah"
"Baik-baik prajurit, kita tunda masalah krim tersebut, kini sampaikan
maksud kalian datang kesini"
"Kami diutus oleh Sukiman, Senopati Terkasih Majapahit untuk mengantarkan
surat dari Beliau dan dua buah guci berisi bubur ayam"
"Kemarikan surat itu, dua buah guci itu untuk siapa?"
"Senopati mendengar kabar bahwa Tumenggung Ra Semi sedang terkena flu aja,
Beliau juga mendengar berita mengenai Putri Diah Kencati sedang sakit demam,
bubur ayam ini untuk Tumenggung dan Putri Diah Kencati"
Arya Tanding memegang salah satu guci tersebut.
"wah masih hangat, nampaknya nikmat juga. Prajurit mengapa
hanya dua buah saja?"
"Maaf Komandan, saya tidak tahu"
"Ya sudah, berikan kedua guci itu"
"Maaf sekali lagi Komandan, yang satu ini untuk Putri Diah Kencati
akan diantar langsung oleh Tabib Dasaperak sekaligus untuk memeriksa
kesehatan
Putri Diah"
"Baiklah, kalian akan diantar oleh pengawal untuk menemui
Putri Diah"
Enam orang prajurit Ra Semi mengantar kedua utusan Majapahit untuk menemui
putri Diah Kencati.