mpu Nala dan Meriam Tapel

Novel, 12 April 2006

Wung wung wung prak, batu-batu dilontarkan oleh meriam tapel sehingga menimpa tembok benteng.
Setalah sembilan atau sepuluh tembakan baru dapat meretakkan tembok tersebut, tembok
dengan ketinggian 10 meter dengan ketebalan 2 meter.
"Lihatlah, tembok ini begitu kokoh, 10 lontaran meriam tapel, hanya bisa meretakkan
tembok." mpu Nala sambil menunjuk tembok tersebut.
"Betul mpu, meriam jadi tidak berguna. Pasukan Jatisari harus memanjat tembok tersebut"
Sukiman mangut-mangut, setuju dengan pendapat mpu Nala.
"Tapi jangan khawatir, kita telah memperbaiki meriam tapel"
"Prajurit gunakan bola baja itu"
Dua orang prajurit menarik dan memasang bola baja itu, kemudian melontarkannya.
Bola baja menghantam dengan kuat, tiga kali hantaman menimpa tembok benteng, tembok itu akhirnya jebol, celah seukuran orang dewasa nampak.
mpu Nala sangat puas.
"Bukankah senjata ini lebih efektif, pintu gerbang benteng musuh dapat kita hujani
dengan meriam tapel. Setelah pintu jebol, pasukan Jatisari, dengan perlindungan
kereta baja bisa menerobos masuk. Langsung kejantung pertahanan musuh."
"Wah sebuah langkah yang efektif, paman Patih Gajahmada pasti senang dengan
perkembangan ini"
"mpu bagaimana kalo meriam tapel kita arahkan ke tengah kota"
"Sangat ampuh, jangankan rumah, semut aja bisa gepeng ketimpa bola
baja ini"
mpu Nala tersenyum simpul.


//========>

"Tabib, denyut nadi Putri Diah normal saja"
"Paman Dasa, saya tidak sakit, cuman kurang selera makan"
"Ha ha, paman membawakan kamu madu Trowulan, dan bubur ayam.
Makanlah, lihat ibumu saja sangat khawatir"
"Betul sekali putri, kami juga membawa buku NegaraKertagama karangan mpu Prapanca.
Agar Putri lebih mengenal dan mencintai negeri ini"
"Paman Tabir Surya, bukankah salinan buku NegaraKertagama hanya dipunya
Prabu Hayam Wuruk, Paman Patih Gajahmada dan Kakak Sukiman"
"Buku ini memang sengaja dipinjamkan oleh Senopati Sukiman untuk kamu"
jelas Tabir Surya.
"Ah, begitu kan, mengapa sih kakak Kim nggak datang sendiri.
Malah yang datang kakak Pucat Pasi"
"Diah buburnya dimakan dulu"
Nyai (Nyi) Banyak mengingatkan putrinya.
"iya Mammo (mama, ibu)"