![]() |
||
|
Banjir Tidak Mengenal Musim Ulasan, 09 Februari 2007 Banjir melanda Jakarta sejak Jumat(2/2) pagi dan puncaknya terjadi pada sabtu keesokan harinya. Banjir kali ini lebih hebat dari pada banjir tahun 2002, karena lebatnya hingga hampir melumpuhkan lalu-lintas di Jakarta. Saat itu, untuk Jakarta Selatan dan Pusat yang dapat dilalui hanya jalur Blok-M - Kota melalui jalan Sudirman, Thamrin. Meskipun dapat dilalui tapi terjadi kemacetan luarbiasa karena hanya satu jalur busway yang dapat digunakan. Banjir melanda begitu cepat, bahkan wilayah-wilayah yang langganan banjir tidak menyangka banjir kali ini lebih dahsyat. Masyarakat bertanya "mengapa tidak ada peringatan dari badan atau lembaga terkait?". Pertanyaan yang sulit karena cuaca adalah hal yang sulit diprediksi, banjir dapat datang kapan saja, bahkan dimusim kemarau sekalipun. Cuaca berbeda dengan musim yang lebih terjadwal, musim mempunyai periode enam bulan, tiga bulan atau satu bulan. Banjir bisa datang kapan saja! bagaimana mengantisipasi agar masyarakat bisa terhindar banji atau minimal terkena dampak banjir. Dampak banjir dapat diminimalkan dengan menyediakan daya dukung lingkungan, baik itu danau, situ, kali atau rawa sehingga dapat menyerap air semaksimal mungkin. Antisipasi saat banjir juga diperlukan, TNI/Polri atau Swadaya masyarakat diperlukan untuk mengevakuasi korban banjir. Banjir sejak rabu(7/2) memang mulai surut namun hujan tetap saja menghantui pikiran, hujan saat ini membuat kawatir karena hujan deras dapat menimbulkan banjir atau genangan air. Kita berharap hujan tetap seperti dahulu kala, Romantis. Saat hujan gerimis sepayung berdua atau kala berdua diteras rumah merasakan dinginnya hujan lebat, begitu syahdu. Harapan ini tentu saja dapat terwujud, meskipun kondisi sekarang perlu perhatian amat. |
|
|