KECEMASAN ARYA TANDING
Novel, 14 Juni 2006
Somat sedang memegang bola baja, disampingnya salah satu meriam tapel terparkir hendak dibawa
maju ke benteng Tusamana kapan saja sesuai perintah.
"Senopati sampai kapan perang harus selalu mewarnai jalannya pemerintahan Majapahit"
"Ini bukanlah perang, yang kita hadapi adalah pemadaman pemberontakan, jika aku ditanya
kapan kedamaian itu ada? jawabnya saat para pemimpin kita mempunyai satu misi untuk
membawa negara menjadi makmur dan penuh rahmat"
"Kesatuan merupakan salah satu kuncinya Somat, kita merasa satu bangsa juga satu misi,
pemimpin boleh berganti tapi misi yang dibawah tetap sama Rahmatan LilAlamin"
Somat nampak termangu,
"Hari ini kita lihat perebutan kekuasaan diTusamana, yang susah adalah seluruh rakyat"
"Benar, para pemimpin lebih tertarik kepada kekuasaan, politik sementara urusan lebih
penting untuk moral bangsa terlupakan"
"Maksud Senopati, kitab khusus dewasa itu"
"He he, kalau masalah majalah dewasa, itu baru terjadi pada abad 21"
//=================>
Gerbang Tusamana, balok penghalang sedang diangkat oleh beberapa prajurit. Dibelakangnya
dua orang penunggang kuda siap-siap berangkat. Keduanya merupakan utusan Ra Semi untuk
menemui Senopati Sukiman. Gerbang benteng terbuka, keduanya menghela kuda kearah pertahanan
Majapahit.
//================>
"Prajurit, bagaimana Nyi Banyak dan anaknya apakah sudah dipindah"
Arya Tanding bertanya kepada prajurit tersebut.
"Sudah Pak, sudah tiba di Lawangtamu"
"Bagus, kembali ketempatmu"
Arya Tanding berjalan mondar-mandir diruangan, kadang dia menuju jendela seakan ingin
melihat keluar sana.
Seorang prajurit lain datang keruangan.
"Selamat Siang Pak"
"Selamat Siang, laporkan keadaan pasukan kavaleri"
"Dibagian barat Tusamana kita menempatkan 5.000 pasukan berkuda,
utusan ke Senopati baru saja berangkat"
"Prajurit panggilkan Komandan Kala Sentanu"
Nampaknya Arya Tanding agak cemas, namun apa yang dicemaskan.