![]() |
||
|
Konser Untuk Negeri: Paduan Suara dan Pesona Ketimuran Sang Anggun Musik, 27 Mei 2006 Belasan tahun lalu saat tampil di panggung terbuka di kawasan Senayan, ia masih muda belia. Bercelana pendek, sepatu boot, dan tak ketinggalan topi baret merah. Giginya bergingsul, rambut panjang agak keriting, kulit gelap, dan badannya masih kurus. Gayanya yang khas ditambah kemampuannya melantunkan nada-nada tinggi lewat lagu hits Laba-laba, Tua-Tua Keladi, dan Mimpi, membuat banyak orang termasuk aku mudah menyukainya. Berkat suara dan penampilannya itu, tak heran kalau ia kemudian dinobatkan sebagai lady rocker pendatang baru membuntuti Nicky Astria yang tengah berkuasa saat itu. Anggun Tahun ini, tepatnya Kamis malam 25 Mei lalu, perempuan itu hadir lagi di depanku dan ribuan orang yang memadati ruang Plenary Hall JCC yang berkapasitas 5000-an. Ia tampil dalam format yang lebih besar dan wah. Ia membawa nama besarnya yang telah mendunia, bukan lagi sebagai lady rocker lokal. Ia tampil dalam konser tunggal spetakuler bertajuk Konser Untuk Negeri, bukan lagi konser kelas kecil, dan ia hadir membawa lompatan perubahan yang jauh lebih besar tanpa mencabut akar jati dirinya. Malam itu ia tetap menyandang nama lamanya Anggun, tanpa embel-embel Cipta Sasmi. Kulitnya masih gelap namun lebih mengkilat, giginya tak gingsul lagi, rambutnya panjang hitam lurus. Ia tak lagi mengenakan atribut khas remajanya melainkan membalut tubuh dewasanya dengan aneka gaun elegan nan sexy. Tubuhnya lebih padat berisi meski tetap nampak tinggi semampai. Malam itu, ia bukan lagi gadis muda belia yang pernah dikeluarkan dari SMU 68 Jakarta karena kesibukannya manggung dalam usahanya membangun karier. Ia benar-benar tampil dengan sensualitas perempuan matang penuh pesona. Kendati namanya harum di tataran Eropa, hidup dan bersosialisasi dalam pergaulan masyarakat internasional, Anggun tetap mempertahankan semua pesona ketimurannya. Rambutnya tetap hitam kelam meski bisa saja ia mengecatnya dengan warna merah, kuning atau hijau seperti kebanyakan orang yang tunduk dengan mode dan tren hingga terkesan sok kebarat-baratan hingga kehilangan citra diri. Kulitnya pun dibiarkan gelap seperti dulu. Ia merasa tak perlu merubah kulitnya menjadi putih dengan berbagai produk dan terapi pemutih kulit seperti yang dilakukan kaumnya yang minder karena berkulit gelap. Justru ia bangga dengan kulitnya yang lebih coklat mengkilat hingga kian menebarkan aura sexy. Rupanya perempuan yang satu ini tahu betul bahwa keaslian dan kederhanaan fisiknya itu pula yang menjadi bagian dari daya tariknya. Keaslian dan kesederhanaan itulah yang membuat inner beauty-nya kian memancar. Hal itu pula yang diungkapkan pengamat musik Bens Leo tentang perempuan satu ini. Anggun memiliki karakter timur yang sangat kuat. “Musik dan wajahnya menjadi daya tarik tersendiri,” kata Bens Leo. Belum lagi kemampuan musikalisasinya yang turut mendukung. “Empat tahun belakangan ini, ia juga menulis lagu, mengarransemen dan menyanyikannya sendiri. Apalagi ia mahir bermain piano itu nilai plus lain,” tambah Bens Leo. Eksotis ketimuran yang disuguhkan malam itu bukan semata memikat pria bule yang memang dominan menyukai wanita setipenya, tapi juga aku yang lokal. Ia hadir dengan pesona Indonesia. Ia tetap menjadi Anggun yang memegang karakter timur (Indonesia) dalam kesederhanaan yang kuat. Ia tak menjadi orang lain seperti yang kerap dilakukan orang (penyanyi) lain yang berlomba menjadi seperti Britney Spear, Pink, Christina Aguilera ataupun Shakira. Dan aku pikir memang itu tak perlu dilakukannya, karena ia tak sekadar memiliki pesona fisik perempuan Indonesia yang khas tapi juga karakter suara serta musikalisasi yang berbeda bahkan boleh dibilang di atas mereka. Ketika muncul dari tirai panggung dengan gaun seksi berwarna merah, Anggun langsung menghampiri penggemarnya di bagian terdepan. Ia tidak mengambil jarak sama sekali. Seolah ingin menunjukkan bahwa ia tetap rendah hati meskipun nama dan prestasinya mendunia. Bahkan ia mengatakan kalau bisa ingin mendatangi penonton yang berada di atas. Kerendahan hatinya kembali ia tunjukkan dengan mengatakan bahwa sekalipun kerap berkeliling (nyanyi) di berbagai negeri bersalju namun ia mengaku deg-degan kalau manggung di negerinya sendiri yang beriklim tropis. Apalagi kalau ditonton oleh banyak penyanyi senior lokal. Tapi nyatanya selama hampir dua jam lebih, tak sedikitpun Anggun menunjukkan grogi, deg-degan apalagi kehilangan greget. Ia justru membuktikan diri sebagai penyanyi berkualitas kelas dunia dengan suguhan kualitas vokal, musikalisasi, gaya dan komunikasi yang memikat. Anggun Fans Usai menyanyikan lagu pertama, ia bertanya kepada audiens tentang gaun merah yang dikenakannya. “Bagus kan bajunya. Ini hasil rancangan disainer Indonesia. Rancangan mereka tidak kalah dengan orang luar lho,” tandasnya seakan ia mengatakan bangga dengan hasil buatan Indonesia. Malam itu Anggun tampil menawan dengan mengenakan empat gaun, dua diantaranya rancangan Priyo dan Enny Betty. Malam itu, Anggun pun membuka kenangan lama saat ia masih remaja saat. Ia masih ingat gaya bicara anak muda tahun 80-an pada eranya. Ia hafal betul kata-kata slank seperti nie yee, memble aje, ngeceng di melawai, bokap dan nyokap yang membuat audiens tertawa. Ia pun mengucapkan beberapa bahasa gaul anak muda sekarang yang dipopulerkan Debby Sahertian seperti mursida (murah), maharani (mahal) dan telepati umroh alias telepon umum yang membuat penonton geli. Bahkan ia kadang menggunakan bahasa Jawa, seperti kata monggo kepada teman-teman bandnya yang semuanya pria bule. Semua itu membuat suasana panggungnya terasa segar sekaligus menggambarkan sejarah perjalanan karirnya. Meskipun tanpa penari dan penyannyi latar, Anggun mampu menghidupkan panggungnya yang berkonsep multi dimensi dan futuristik itu dengan gayanya yang memikat, gerakan dan balutan gaun sexy namun tak vulgar, serta guyonan yang alami tanpa dibuat-buat. Secara musikalisasi, konser tunggal akbarnya kali ini jauh lebih berkelas. Ia diiringi band aslinya yang digawangi empat orang bule. Sesi pertama, Anggun lebih banyak membawakan lagu-lagunya yang berbahasa Inggris dengan kualitas vokal yang jauh lebih dasyat dibanding saat ia remaja serta dengan arransemen musik yang memang kelas dunia. Sebut saja lagu Evil and Angle, Undress Me, Still Remember Me, Breath in water, Cover, dan Snow on the Sahara. Kendati penonton banyak yang tidak hafal dengan lagunya, namun berkat kekuatan vokal dan kemegahan arransemen membuat penggemarnya terkesima dan kerap memberi tepukan hangat. Di sesi kedua, ia membawakan lagu-lagu lamanya yang pernah hits seperti Bayangan Ilusi, Laba-laba, Gaya Remaja, dan Mimpi dengan iringan band lokal yang dikomandani Andy Ayunir, mantan kekasihnya dulu. Anggun yang bergaun bak putri duyung berhasil mengajak penggemarnya tertawa karena bertingkah lucu serta koor dengan arransemen baru iringan violin, cello, sexophon, dan piano. Bahkan ia membagikan topi baret merah yang dibubuhi tandatangannya ke penggemarnya. Pada sesi ketiga, Anggun kembali tampil dengan band aslinya. Ia tampil lebih ngerock dengan balutan atasan hitam dengan celana pendek senada, menyesesuaikan dengan musiknya yang lebih menghentak Ia membawakan beberapa lagu dari album internasionalnya yang terbaru yang salah satu video klipnya dilarang tayang di Indonesia karena dianggap kelewat sexy. Namun pada konser malam itu, video klip yang menjadi theme song film transporter 2 ini, ditayangkan di sesi ketiga bahkan dibeberapa sudut ruang pamer sebelum konser berlangsung. Pada saat itulah, Anggun sempat meyinggung soal Rancangan Undang-Undang Aksi Pornografi dan Pornoaksi yang menurutnya akan melahirkan generasi yang frustasi dan akan membuat kaum perempuan kehilangan feminitasnya. Dalam gerakannya ia sempat bergaya dan berceloteh bak ratu ngebor Inul Daratista, “ngebor dulu ah”, katanya seolah menyiratkan bahwa ia mendukung apa yang dilakukan Inul dan tidak menyetujui adanya undang-uandang tersebut. Tiba-tiba Anggun ke belakang panggung diikuti teman-teman bandnya. Penonton sempat kaget. Tapi ternyata itu cuma trik. Setelah penonton berteriak kompak, ”we want more Anggun,” berkali-kali. Tak lama kemudian ia dan teman-teman bandnya muncul dengan lagu yang menghentak ruangan konser. Anggun membawakan lagu lamanya yang paling populer di Indonesia, Tua-Tua Keladi dengan arransemen modern. Penonton menyambutnya dengan gegap gempita dan kembali koor bahkan semua berdiri. Anggun nampak tersanjung dan tak mampu menahan rasa bahagianya. “Ini menjadi konser yang berarti buatku dan tak mungkin bisa kulupakan selama hidupku,” katanya menyentuh seraya disambut tepukan hangat penggemarnya. Akhirnya Anggun menutup konsernya dengan adegan yang manis. Ia mengenakan bendera merah putih yang dikenakan oleh Jay Subyaktor selaku penata artistik konsernya, kemudian mereka berdua menghilang ke balik panggung setelah Anggun berucap terimakasih. Malam itu, Anggun membuatku kian bangga dengan segala yang dimilikinya. Ribuan penggemarnya termasuk artis pun mengungkapan kepuasannya, diantaranya penyanyi senior Harvey Malaiholo yang mengatakan bangga dengan Anggun dan berharap ia terus sukses. Sementara penyanyi sekaligus istri Armand Maulana, Dewi Gita mengatakan membawa pulang sesuatu yang berharga usai menonton konser Anggun. Sedangkan Musisi Dwiki Darmawan yang hadir bersama istri tercinta Ita Purnamasari berharap Anggun bisa Go Amerika Serikat. Dan Bens Leo merasa yakin Anggun mampu menancapkan karirnya lebih tinggi karena ia punya kekuatan musikalisasi dan karakter ketimurannya. Pengamat musik ini berharap penyanyi lain yang punya potensi besar harus berani keluar kandang seperti yang dilakukan Anggun kalau ingin mendunia.
|
||