Ada Demo di Tusamana
Novel, 24 Mei 2006
Ratusan perwira dan prajurit nampak sedang berdemo tidak jauh dari kemah Senopati Sukiman,
mereka membawa panji-panji, bendera serta membunyikan genderang. Salah seorang reporter
sukiman.com berhasil mewawancarai salah seorang perwira tersebut, berikut petikannya :
Wartawan: "Pak Komandan, ini demo apa, mengapa ada demo ditengah-tengah siap siaganya
pasukan digaris pertahanan"
Komandan: "Kami ingin memprotes Senopati, mengapa keris Kyai Sapu Jagat diserahkan kepada
Patih Anuken Tangkas"
Wartawan: "Apakah kesiagaan pasukan tidak terganggu?"
Komandan: "Tentu saja tidak, seluruh pasukan dalam siaga, ini hanya perwakilan saja, dan
dilakukan dengan tertib"
Wartawan: "Apa yang menjadi tuntutan anda"
Komandan: "Kami ingin keris Kyai Sapu Jagat tetap dipegang Senopati"
Orasi para pendemo terdengar sangat berapi-api,
"Keris Kyai Sapu Jagat harus tetap dipegang oleh Senopati, betul atau tidak?"
"Benar, Benar"
Suara orasi dan tabuhan genderang membuat suasana demo hingar-bingar.
Tenda kemah terbuka, melangkah keluar Sukiman, Tabib DasaPerak dan Tuan Maricaya.
"Tuan Maricaya, ada apa dengan mereka"
"Maaf Senopati, mereka melakukan demo"
"Bukannya sekarang dalam siaga perang, mengapa masih ada demo?"
"Mereka sudah dapat ijin demo Senopati"
"Siapa yang mengijinkan mereka?"
"Saya Senopati" Tuan Maricaya mengembangkan senyum.
Langkah ketiganya begitu cepat, beberapa komandan segera bergabung untuk menemui para
pendemo. Setelah diadakan pembicaraan ada lima orang perwira dari pendemo yang diijinkan
bertemu dengan Sukiman.
Sukiman: "Mengapa ada keramaian disini?"
Pendemo1: "Kami ingin agar Keris Kyai Sapu Jagat dikembalikan"
Pendemo2: "Benar, kami ingin anda segera menarik kembali keris tersebut"
Sukiman: "Ada apa ini, mengapa kalian meributkan keris tersebut, bukankah
saya hanya mengijinkan agar Patih Tangkas menggunakannya saja"
Pendemo3: "Kami ingin keris tersebut bersama anda"
Sukiman: "Apakah kalian tidak senang jika Patih Tangkas memperoleh kemenangan, bukankah
pasukannya bersama kita?"
Pendemo1: "Iya, kami tentu saja berharap kemenangan Patih Tangkas! tapi kami juga berharap
kemenangan bersama anda"
Sukiman: "Apakah tanpa keris itu kita akan kalah"
Pendemo1: "Tentu saja tidak"
Sukiman: "Benar, bukankah kalian bertempur bersamaku?"
Pendemo2: "Siap"
Sukiman: "Kalau begitu ikhlaskan saja keris itu bersama Patih Tangkas, sementara aku bersama kalian"
Pendemo1: "Siap"