Somat Raksasa Hitam Dari Trowulan
Novel, 31 Mei 2006
Suara gaduh ringkik kuda serta bunyi senjata terdengar di perkemahan barat. Nampak seseorang tinggi besar
(seolah-olah raksasa) sedang mengamuk, kakinya dirantai dengan bandul besi yang besar sedangkan kedua
lengannya dirantai. Ujung kedua rantai diikatkan ditiang kayu, namun karena terlalu kuat (atau mungkin ceroboh)
kedua tiang itu tercabut. Bagai mainan gasing kedua ujung rantai dipegang masing-masing dua prajurit, namun
mereka terombang-ambing kekanan-kiri.
Keempat prajurit tersebut terpental, raksasa hitam itu masih terus bergerak. Puluhan prajurit mengepungnya,
mengelili raksasa hitam itu.
"Kemana sang Senopati, katakan padanya aku ingin pulang ke Trowulan"
her her teriakan Somat sang raksasa hitam.
Beberapa prajurit dengan tangkas memegang kedua ujung rantai Somat.
"Ada apa dengan kalian, apa masih ingin bermain gasing"
Somat membetot rantai tersebut, ingin memutarnya.
Para prajurit dengan kuat menahan tarikan Somat.
Pasukan kavaleri berjaga dari jarak jauh, sedangkan prajurit infrantri dengan rapat mengelilingi Somat.
Tiba-tiba kepungan dilonggarkan, disebelah kiri kepungan terbuka jalan, seseorang dengan tubuh tegap
dengan senyum mempesona berjalan cepat kain celananya tertiup angin membuat bunyi yang aneh, wung wung.
Dia adalah Sukiman, sendirian berkemeja putih dan kain celana coklat melangkah kedepan.
"Aku disini Somat, ada apa, beberapa hari yang lalu, kau meminta untuk turut serta dalam perang ini"
"Oh, sang Senopati sudah disini, ya betul, tapi perlakuan yang saya terima tak layak,
apakah saya seorang kriminal sehingga harus dirantai"
"Ingat Somat, kau sedang menjalani hukuman, jika kelakuanmu membaik tentu saja rantai itu akan kulepas"
"Aku ingin sekarang" Somat menarik dengan kuat rantai yang melilitnya.
"Lepaskan saja prajurit" Sukiman menyeru.
"Tapi Senopati" Jawab Komandan Prajurit.
"Ya, Lepaskan, jangan khawatir"
Betotan yang dilakukan prajurit infantri begitu kuat, seorang prajurit melangkah mendekati Somat.
"Tenang Somat, kami akan membuka rantai ini"
Cepat sekali, prajurit tersebut membuka rantai ditangan dan dikaki Somat.
Begitu dilepas sekonyong-konyong Somat berlari kearah Sukiman, tubrukan tak dapat dihindari.
Bahu Sukiman dan Somat beradu, tubuh Somat yang besar seakan-akan ingin melumat Sukiman.
Adu dorong itu masih berlanjut, saling dorong dan memutar, tanah disekeliling mereka berserakan, sementara
debu sudah membumbung.
Sigap sekali, Sukiman mundur dan cepat berguling kekanan, Somat yang tak menyangka jatuh terjerembab. Somat
segera bangkit dan menyerbu kedepan, kepalan tangannya terayun kedepan. Sayang sekali gerakannya kurang cepat,
pukulan itu dengan tangkas diplintir kekanan. Dengan memanfaatkan ayunan badan, kaki Sukiman nangkring kewajah
Somat, plok.
Somat bergerak mundur, kepalanya agak pusing.
"Sudahlah Somat, kalau ingin olahraga, sebaiknya adu panco aja, atau adu lari"
"Tidak Sukiman, sampai kau setuju kalau aku dikirim pulang"
"Yang betul saja, memangnya kamu ini artis, hari kemarin bilang ikut, hari ini bilang pulang,
ingat kita berada dimedan perang, nggak bakal ada yang bakal demo disel kamu dan membawa spanduk
bertuliskan "Somat jangan pulang"
"Begini saja Somat, saya akan melepaskan rantai dan bersikaplah yang baik, berbuat onar seperti ini
tentu saja sangat mengganggu, kalau kurang olahraga bolehkan mencangkul disini atau membajak disini"
"Enak saja, saya ini prajurit"
Keduanya bersalaman, tentu saja ada peluh, juga ada memar namun semuanya diselesaikan dengan bijak,
tak ada dengki dan iri hati.