 |
 |
|
 |
 |
|
     
Bromo, melihat fajar di Pananjakan
Kami
tiba di Lereng Bromo, sekitar jam 5:00 sore.
Sore hari di Bromo, nampak begitu sunyi, selepas kami check-in, saya dan kawan
berkeliling mengendarai mobil, disana-sini terlihat orang tengger, mereka kebanyakan menggunakan sarung.
Mobil kami berhenti disebuah pos, saya membayar karcis untuk melewati pos tersebut, menurut mereka disinilah mobil
pribadi bisa digunakan, kami harus menggunakan jeep untuk naik ke Bromo, saya katakan saya hanya ingin melihat sekitar sini saja,
Tidak begitu jauh anda akan menemukan sebuah penginapan, hote View Bromo namanya, saat itu mereka sedang renovasi, halaman depan dan area parkir lagi
dibenahibatu-batunya. Saya sering melihat jenis pekerjaan ini, karena lantai parkir tidak diaspal melainkan diberi batu abu-abu yang ditata
dan diberi pasir agar padat.
Setelah melihat-lihat sekeliling hotel View puncak saya memutuskan untuk kembali ke Hotel, suhu udara
semakin dingin. Di Hotel kami menyewa jeep untuk naik ke Pananjakan dan Bromo, sewa mobil ini sudah dengan supirnya.Petugas hotel akan membangunkan kami jam
4 pagi. Tempat kami menginap berupa bungalow, ada beberapa bungalow yang terlihat berjejer, sebaiknya anda di lobi hotel saja, karena jalan disini
menanjak, membuat kaki cepat lemas. Di sebelah kiri lobi ada kafe kecil, disana kami memesan kopi dan pisang goreng, pisang goreng ini disajikan dengan taburan keju dan coklat.
|
|
|
| Masih diruangan
kafe, dekat ruangan kafe kita bisa menjumpai ruangan
bilyar, kebetulan lagi sepi, kami bermain untuk satu
game. Maklum kami ini pemula untuk jenis olahraga
bilyar, sehingga bola 15 yang kami mainkan bisa setengah
jam untuk 1 gamenya, selepas bermain bilyar kami bergegas
ke kamar untuk tidur, besok pagi kami harus siap.
kring, maaf pak mengganggu, mobil sudah siap, seru petugas diseberang sana,
badan saya masih lemas, karena perjalanan dari Surabaya, saya keluar kamar, rupanya rekan
saya sudah lebih dahulu bangun, bahkan mereka sudah membeli topi untuk udara dingin,
menyewa jaket dan sepatu olahraga. Sayang sekali sepatu olahraga yang tersedia kecil-kecil,
terpaksa saya memakai sepatu kulit, padahal sayang juga, karena lokasi yang akan kita tuju
kebanyakan berpasir. |
|
Kami menuju
lobi, disana nampak beberapa bule yang ingin naik ke bromo, mobil bergerak dari hotel
menuju pananjakan, disepanjang jalan anda akan menemui orang-orang tengger, bahasa mereka
masih mirip dengan bahasa jawa. Sesampainya di Pananjakan, anda harus berjalan kaki, juga memakai satu lagi
jaket serta kaos tangan. Sebenarnya saya kurang yakin apa memang begitu dingin, udara diatas sana, namun saya tetap
memakainya. Suasana masih gelap, ketika kami tiba. masih harus menunggu setengah jam untuk melihat matahari terbit,
diatas pemadangan begitu indah, juga begitu dingin.
Fajar terbit di Pananjakan, kami memotret pemandangan ini, sinar matahari yang
nampak oranye, juga sinar putih yang membelah kegelapan, pemandangan ini akan berlangsung 20 menit, sebelum akhirnya
matahari makin kokoh menerangi alam, dan langit disana akan cerah. Dari Pananjakan kami menuju Bromo,
bromo biasanya rame di hari sabtu dan minggu, terutama dipagi hari, saat udara masih dingin dan sejuk.
Dihadapan anda terhampar gurun pasir, jauh disana ada sebuah kuil hindu dan
nampak tangga hijau, itulah bromo, disana anda akan menitih tangga tersebut untuk sampai dipuncak, dari puncak anda akan melihat
kawah, beberapa orang yang berani, mengelilingi kawah tersebut.Untuk melewati padang pasir menuju tangga bromo anda dapat menyewa kuda, jangan takut
mereka akan menuntun kuda itu perlahan-lahan. Inilah akhir dari kisah di Pananjakan dan Bromo, sampai jumpa diedisi mendatang |
|
|
 |
|