Media Berita dan Informasi Indonesia

Jumat, 16 Mei 08
 
ANTANT AVEROUSE SUKIMAN
 
BROMO DAN PANANJAKAN
 
 
WISATA








 

                    Bromo, melihat fajar di Pananjakan
     Kami tiba di Lereng Bromo, sekitar jam 5:00 sore. Sore hari di Bromo, nampak begitu sunyi, selepas kami check-in, saya dan kawan berkeliling mengendarai mobil, disana-sini terlihat orang tengger, mereka kebanyakan menggunakan sarung. Mobil kami berhenti disebuah pos, saya membayar karcis untuk melewati pos tersebut, menurut mereka disinilah mobil pribadi bisa digunakan, kami harus menggunakan jeep untuk naik ke Bromo, saya katakan saya hanya ingin melihat sekitar sini saja, Tidak begitu jauh anda akan menemukan sebuah penginapan, hote View Bromo namanya, saat itu mereka sedang renovasi, halaman depan dan area parkir lagi dibenahibatu-batunya. Saya sering melihat jenis pekerjaan ini, karena lantai parkir tidak diaspal melainkan diberi batu abu-abu yang ditata dan diberi pasir agar padat.
     Setelah melihat-lihat sekeliling hotel View puncak saya memutuskan untuk kembali ke Hotel, suhu udara semakin dingin. Di Hotel kami menyewa jeep untuk naik ke Pananjakan dan Bromo, sewa mobil ini sudah dengan supirnya.Petugas hotel akan membangunkan kami jam 4 pagi. Tempat kami menginap berupa bungalow, ada beberapa bungalow yang terlihat berjejer, sebaiknya anda di lobi hotel saja, karena jalan disini menanjak, membuat kaki cepat lemas. Di sebelah kiri lobi ada kafe kecil, disana kami memesan kopi dan pisang goreng, pisang goreng ini disajikan dengan taburan keju dan coklat.
 
Masih diruangan kafe, dekat ruangan kafe kita bisa menjumpai ruangan bilyar, kebetulan lagi sepi, kami bermain untuk satu game. Maklum kami ini pemula untuk jenis olahraga bilyar, sehingga bola 15 yang kami mainkan bisa setengah jam untuk 1 gamenya, selepas bermain bilyar kami bergegas ke kamar untuk tidur, besok pagi kami harus siap. kring, maaf pak mengganggu, mobil sudah siap, seru petugas diseberang sana, badan saya masih lemas, karena perjalanan dari Surabaya, saya keluar kamar, rupanya rekan saya sudah lebih dahulu bangun, bahkan mereka sudah membeli topi untuk udara dingin, menyewa jaket dan sepatu olahraga. Sayang sekali sepatu olahraga yang tersedia kecil-kecil, terpaksa saya memakai sepatu kulit, padahal sayang juga, karena lokasi yang akan kita tuju kebanyakan berpasir.  
    Kami menuju lobi, disana nampak beberapa bule yang ingin naik ke bromo, mobil bergerak dari hotel menuju pananjakan, disepanjang jalan anda akan menemui orang-orang tengger, bahasa mereka masih mirip dengan bahasa jawa. Sesampainya di Pananjakan, anda harus berjalan kaki, juga memakai satu lagi jaket serta kaos tangan. Sebenarnya saya kurang yakin apa memang begitu dingin, udara diatas sana, namun saya tetap memakainya. Suasana masih gelap, ketika kami tiba. masih harus menunggu setengah jam untuk melihat matahari terbit, diatas pemadangan begitu indah, juga begitu dingin.
    Fajar terbit di Pananjakan, kami memotret pemandangan ini, sinar matahari yang nampak oranye, juga sinar putih yang membelah kegelapan, pemandangan ini akan berlangsung 20 menit, sebelum akhirnya matahari makin kokoh menerangi alam, dan langit disana akan cerah. Dari Pananjakan kami menuju Bromo, bromo biasanya rame di hari sabtu dan minggu, terutama dipagi hari, saat udara masih dingin dan sejuk.
     Dihadapan anda terhampar gurun pasir, jauh disana ada sebuah kuil hindu dan nampak tangga hijau, itulah bromo, disana anda akan menitih tangga tersebut untuk sampai dipuncak, dari puncak anda akan melihat kawah, beberapa orang yang berani, mengelilingi kawah tersebut.Untuk melewati padang pasir menuju tangga bromo anda dapat menyewa kuda, jangan takut mereka akan menuntun kuda itu perlahan-lahan. Inilah akhir dari kisah di Pananjakan dan Bromo, sampai jumpa diedisi mendatang